rui n me

Peradaban adalah suatu bentuk kondisi dinamika masyarakat yang terus berkembang baik perkembangan itu mengarah kepada suatu kondisi yang lebih baik, maupun kondisi yang mengarah kepada kondisi kemunduran. Untuk menuju kedalam kondisi yang lebih baik dalam peradaban yang berbasis kehutanan perlu adanya suatu senergitas seluruh stakeholder baik itu pemangku kebijakan, pelaksana kebijakan, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, serta seluruh lapisan masyarakat.
Kehutanan menjadi aspek penting dalam isu global hari ini, pertarungan wacana di setiap elemen pun mampu mewarnai kondisidi setiap permasalahan yang ada.Dari sisi akademisi, politsi, orang dewasa, laki-laki, perempuan dan anak-anak juga sangat terpengaruhi oleh wacana lingkungan yang selalu bersinergis dengan dunia kehutanan hari ini. Wacana kehutanan pastilah berimplikasi langsung ke institusi pendidikan kehutanan. Tetapi, yang menjadi salah satu permasalahan hari ini adalah kita sebagai mahasiswa kehutanan sudah seharusnya intropeksi diri dan memunculkan sebuah pertanyaan dimana sebenarnya peran kita sebagai mahasiswa kehutanan?
Mahasiwa fakultas kehutanan menurut saya adalah mahasiswa yang seharusnya menjadi garda terdepan yang mampu untuk menyuarakan dan memenangkan pertarungan wacana kehutanan baik dari tataran lokal, nasional maupun internasional. Adanya kestrategisan yang dimiliki mahasiswa fakultas kehutanan adalah tidak terlepas dari keberadaan mahasiswa kehutanan itu sendiri yang telah memiliki penguasaan ilmu dasar kehutanan serta korsa rimbawan yang kuat. Ini sebenarnya dapat dijadikan modal utama kita sebagai mahasiswa kehutanan untuk menjadi leader yang berperilaku kritis terhadap kondisi kehutanan Indonesia hari ini baik dalam ruang lingkup kebijakan kehutanan dan system pengelolaan hutan yang lestari.
Sangat disayangkan sekali jika kita sebagai mahasiswa fakultas kehutanan tidak mampu dalam penguasaan wacana kehutanan dan menangkap wacana serta isu-isu yang berkembang dalam dunia kehutanan. Tetapi, dalam kondisi kekiniannya mahasiswa kehutanan ternyata sampai saat ini belum menunjukkan responsivitas terhadap wacana-wacana kehutanan ada. Disamping adanya jiwa responsive penerapan prinsip ASIK (Agamis, Sportif, Intelek, Kreatif) juga menjadi kewajiban untuk diwujudkan dalam tataran fraksis yaitu melakukan bentuk-bentuk kegiatan yang sampai menyentuh kekondisi masyarakat.
Mahasiswa merupakan individu intelektual yang dituntut untuk berperan aktif dan responsive terhadap dinamika yang berkembang baik yang ada di kampus maupun di luar kampus. Kepribadian mahasiswa saat ini masih dianggap sebagai agent of change, kaum intelektual yang mengedepankan sisi kritis dalam melihat berbagai dinamika dan problematika yang terjadi. Maka dari itu mahasiswa harus memiliki kemampuan yang mendasar baik dari segi keilmuan (Intelek, Kreatif) dan moralitas (Agamis, Sportif) dalam mewujudkan suatu bentuk kegiatan yang berguna bagi masyarakat dan ikut serta dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Categories:

Leave a Reply